Laba Bersih 6,5 Juta Perbulan, Setelah 3 Tahun : Bangkrut

Categories Blogging, Keuangan

kenapa bisa bangkrut

 

“Bang, Mundar bangkrut!” begitu kata Musdar kepada Munif beberapa waktu yang lalu

“kok bisa?”

“gak tau juga bang…padahal usahanya kelihatannya baik baik aja kan?”

“iya sih, tapi gak tau juga…”

Penasaran dengan cerita Masdar tentang Mundar, Munif coba singgah ke rumah mundar. Dia sudah pindah ke rumah yang lebih sederhana. Tidak lagi di ruko tempat usahanya yang lalu.

Mundar adalah seorang pemuda, berumur sekitar 35-an dengan satu istri dan 1 orang anak. Istrinya membantu menjalankan usaha di ruko yang mereka sewa sekaligus menjadi tempat tinggal mereka. Lokasi usahanya tergolong strategis, ditepi jalan yang cukup ramai di tepian Kota Medan.

Seingat Munif, sekitar setahun yang lalu ia bersilaturrahim ke ruko Mundar, sekedar ngobrol ngobrol sembari menikmati sate padang panas yang biasa berkeliaran di seputaran Kota Medan saat malam hari tiba.

“Ane mau beli mobil.” begitu kata mundar waktu itu.

“Ente pegang free cash berapa sekarang?” Munif bertanya

“Hampir seratus”

Mundar punya usaha penjualan kerupuk dan percetakan, cukup lumayan. Dengan penjualan rata – rata 100 – 120 pack sehari. Harga kerupuk adalah 5000 per pack. Setidaknya sehari ia dapat mendapatkan sekitar 500 – 600 ribu atau sebulan sekitar 15 – 18 jutaan.

Disamping menjual kerupuk ikan, di ruko itu juga, Mundar menjalankan usaha percetakan seperti undangan dan spanduk, Rerata laba bersih 1,5 – 2 juta sebulan dari unit usaha ini.

Kalau dihitung hitung, bisalah si Mundar ngantongi Free Cash sebanyak 6,5 juta sebulan.

“Apa rencana ente dengan beli mobil?”

“Mau ane daftar ke Ub*r. Nanti hasil ube*r buat bayar cicilan.”

Waktu itu memang menjadi driver Angkutan berbasis online terlihat  menjanjikan. Banyak cerita sukses yang beredar, membuat banyak telinga berdiri dan berusaha ikutan berebut kue.

Jalanan Kota Medan menjadi lebih padat dari sebelumnya karena banyak mobil yang awalnya nganggur digerakkan menjadi angkutan berbasis online. Belum lagi pertambahan mobil baru yang berniat sama.

Rencananya sih tidak salah, cuma kalau salah perhitungan bisa berabe.

“Dengan free cash yang ada sekarang, kenapa gak ente pake untuk buat memperluas pasar? Buka toko baru lagi, misalnya. Usaha seperti ini ente ini memang salah satunya mesti penetrasi.”

“kayaknya nggak lah, ini aja dah repot.”

“Maksud ane, ente buat toko baru, ente garap pasar baru yang lebih luas. Hasil dari toko yang baru bisa ente jadikan sebagai cicilan mobil kalo memang mau beli mobil.”

Kelihatannya ideal ya? beli mobil  dijadiin angkutan online, trus hasilnya buat cicilan.

kelihatannya juga seperti aset ya kan? Dan kelihatan juga hutang beli mobilnya seperti hutang baik.

kawan kawan tau aset kan? itu lho sumber daya yang kita punya dan dapat memberikan ‘cash’ ke kita di masa yang akan datang.

Kalau hutang baik udah tau? itu lho hutang yang bisa melunasi dirinya sendiri.

Emang ada bang, hutang yang bisa melunasi diri sendiri? Contohnya itu ada, ente beli mobil trus mobilnya dibuat rental/ ojol, hasil dari sana buat bayar cicilan.

Jadi teringat waktu garap usaha rental mobil. Hitung- hitungannya enak, baru terasa waktu mobil di bawa kabur yang rental. Kapok.

Mundar cuma angguk-angguk aja, Munif berharap sih dia tercerahkan sedikit.

Seperti saya bilang, banyak kita merasa membeli aset, setelah di beli malah jadi kebalikannya, Liabilitas. Beli mobil buat narik, eh hasil tarikan gak mencukupi buat cicilan, akibatnya cash yang ada tergerus…

apa yang menyebabkan kebangkrutan

Selang beberapa hari sejak obrolan malam itu, sepulang mengantar anak sekolah, Munif melihat ada mobil abu rokok baru di depan ruko si Mundar. Awalnya Munif berpikir ini mobil rental, bukan mobil Mundar.

“Jadi ente ambil mobilnya…”

“hehe… iya.”

“Kredit leasing?”

“iya…”

“cicilan berapa?”

“4,5”

“Duh…pertama hutang leasing itu riba, kalo dah riba pasti hutang buruk, kedua 4,5 itu terlalu tinggi, gak akan nutup dari hasil ngub*r ente nanti. setidaknya itu pengalaman sodara ane pernah punya usaha rental.” kata Munif panjang lebar.

“InsyaAllah nutup, karena ane juga mau antar anak sekolah yang bulanan…” jawab Mundar optimis

Iya sih, saudaranya Mundar kepala sekolah SDIT, jadi ada peluang dia jadi antar jemput anak sekolah.

Dalam hati Munif cuma bergumam, sayang sungguh sayang…

“Ente tau gak, kalo beli mobil konsekuensi pertama adalah harganya pasti turun, gak mungkin harga beli sekarang, besok jual sama harganya, walau belum ente pake. si mobil kalo dah keluar dealer maka statusnya sama : seken.”

Mundar cuma mengangguk. Munif melanjutkan

“Kedua, beli bensinnya jelas lebih banyak bro…biasa bawa motor isi 10 rebu, bawa mobil gak mungkinkan ente kasih 10 rebu juga? bisa terbengong bengong nanti petugas spbunya. Paling gak warna biru atau merah”

“Ketiga, kalo ganti oli, jelas 5 kali lebih mahal bro dari motor ente. Oli mesin mobil 4 liter. Belum lagi sparepartnya…”

Ah…si mundar cuma senyum-senyum aja…persis kata abang saya. Mundar ini sifatnya seperti pepatah minang

“iyokan nan di urang, lalu kan nan di awak”

Mau sampe bebuih awak ngomong, cuma senyum dan ngangguk aja. Tapi tetap aja yang dilakukan yang mau dia.

Setelah pertemuan pagi itu, Munif cukupkan untuk membantunya mengambil keputusan keuangan yang berpengaruh signifikan pada bisnis dan kehidupan sehari-harinya. Cepat atau lambat.

“Nif…bisa pake uang ente dulu?” begitu bunyi pesan si mundar

“berapa?”

“2 juta aja, minggu depan ane ganti…”

“boleh, ke rumah aja…”

se sampai ia di rumahMunif, Munif bertanya, “Buat apa?”

“Buat cicilan biar gak kena denda…ane seminggu gak narik, jadi gak ada pemasukan ni…”

“oh…oke…”

 

***

 

Belum setahun berselang, Mundar dan Munif bertemu di masjid.

“Ane mau jual (over kredit) mobil.” begitu katanya lirih…

“kenapa?” Munif bertanya balik

“Udah agak terasa sekarang, Ub*r dkk, makin sulit sekarang, bonus banyak dihilangkan.” Nadanya gak se pede waktu beli kemarin.

“Berapa mau ente jual?”

“ini ane udah cicil 12 bulan, rencana 50 juta aja…”

“DP berapa kemaren?”

“30”

Munif cuma tersenyum lalu ia katakan ke mundar, “kalau mobil kredit, trus mau di jual/ over kredit, paling keras cuma balik DP, gak mungkin lebih dari itu. Apalagi baru 12 bulan. Cicilan ente itu cuma di hitung biaya rental.”

Biasanya mobil kredit, baru ada nilainya kalau sudah masuk tahun ke 3. Pertama karena nilai pasaran mobil yang sudah turun dari harga beli, kedua cicilan sudah mendekati harga pasaran.

Mundar diam aja, lalu Munif lanjutkan, “paling – paling laku di angka 15 – 20 Juta”

Mundar makin lesu…

 

Epilog

Sebelum pertemuan di masjid kemarin, Munif mendengar kabar kalau Mundar sudah tidak menjual kerupuk ikan lagi. Kontrak mereka yang bulanan habis dan mereka sibuk mencari rumah kontrakan.

Ada kabar juga, kalau mereka sudah di usir pemilik ruko, duh! sampai waktu yang disepakati belum juga dapat kontrakan baru.

Sewaktu Mundar bilang punya free cash 100 juta, Munif juga sudah sarankan ia untuk membeli tanah atau rumah di pinggiran kota, sisanya buat modal usaha.

Kabar terakhir si Mundar tidak lagi narik full day, cuma sore hari aja. karena sejak pagi hingga sore ia menjadi karyawan sebuah kantor di Kota Medan.

Kenapa saya bilang bangkrut, kalau free cashnya masih ada, ia tidak akan pinjam uang Munif untuk cicilan mobilnya kan?

Kita tidak perlu bicara soal RIBAnya,

Tapi pemahaman soal Uang, mana aset mana liabilitas, konsekuensi biaya yang timbul dan risiko lainnya seperti biaya perawatan dan penyusutan perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk membeli. Apalagi saat itu dipakai untuk usaha, jangan sampai kita cuma dapat cape aja,uangnya gak ada!

 

*) Udah tau cara hitung laba bersih kan? dari laba bersih usaha ini bisa kita bagi 2, pertama untuk pemilik usaha kedua untuk pengembangan usaha. Pada cerita di atas ada kata kata free cash, ini adalah laba bersih yang disimpan oleh Mundar dari usahanya. Tentang laba bersih, bisa klik link ini.

**) Kalau belajar keuangan, saya ada mencatat, ini yang perlu diperhatikan.

 

Salam

Bag Kinantan

 

 

 

 

4 thoughts on “Laba Bersih 6,5 Juta Perbulan, Setelah 3 Tahun : Bangkrut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + sixteen =