Kekuatan Cerita dalam Iklan

Kekuatan Cerita dalam Iklan

Entah siapa yan mengatakan kepada saya bahwa people love story, pada dasarnya manusia itu suka cerita. Untuk itu berceritalah.

Dalam pikiran kita terdapat sebuah “penyaring” yang biasa disebut sebagai critical area. Critical area ini bekerja sebagai satpam yang memfilter semua informasi yang akan masuk ke pikiran bawah sadar kita.

Seperti kita ketahui bersama bahwa 80% tubuh kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, sehingga jika kita ingin mempengaruhi seseorang maka pengaruhi pikiran bawah sadarnya.

Dan ternyata “satpam” di pikiran kita ini agak galak. Kita harus pandai merayunya agar ia luluh dan memudahkan kita masuk ke pikiran bawah sadar.

Dan salah satu yang saya temukan adalah lewat cerita.

Penawaran Itu Mengganggu

Pernah nonton tv kan? Apa yang kawan kawan lakukan saat nonton tv dan sedang jeda iklan? Saya yakin kebanyakan kita mengganti channel mencari program acara lain dan cenderung melewatkan jeda iklan. Sangat jarang yang duduk manis menikmati iklan yang disajikan.

Karena sebagian besar iklan yang ada di tv membuat ‘satpam’ dipikiran kita gak nyaman. Sehingga ia beri rekomendasi pikiran untuk mengganti channel.

Tapi coba perhatikan juga saat ada iklan yang lebih banyak unsur ceritanya. Biasanya kita juga bisa menikmatinya.

Saya pernah contohkan sebuah cerita judulnya jeruk :

 

Jeruk…

 

Jujur saja, saya suka sekali sama jeruk, apalagi jeruk Medan. Sebenarnya gak ada jeruk Medan, yang ada jeruk brastagi dan daerah di sekitar gunung sinabung.

Gak tau juga kenapa jadi suka jeruk, maklumlah jarang – jarang waktu kecil makan buah, hidup masih prihatin.

Mungkin pas kuliah kali ya? Waktu itu, kami biasa makan di warung makan milik ibu kost kami, selain harga bersahabat, porsinya juga jumbo..hehee

Selain makanan berat, ibu kost juga jualan makanan ringan termasuk buah.

Cuma 2 jenis buah yang rutin tersedia di warung makan ini, ya dua jenis buah ini adalah buah sejuta ummat, selalu ada dalam jumlah besar.

Pisang dan jeruk

Kalo pisang karena di rumah ibu saya banyak pohon pisang, bapak saya suka nanam pisang dan ada beberapa jenis pisang di pekarangan rumah kami.

Nah, jeruk ini yang jarang saya nikmati, di kampung saya ada dua jenis jeruk yang terkenal, satu jeruk Medan (Brastagi) dan satu lagi jeruk Kalimantan.

Harus di akui, jeruk Medan lebih enak rasanya, manis dan buahnyapun padat. Selain melepas dahaga juga bisa menunda lapar..

Bermula dari sini saya jadi suka jeruk.

Bahkan kadang saya jadi cenayang (peramal), menebak ini jeruk manis, ini agak masam…hehe

Karena keseringan makan jeruk saya bisa merasakan rasanya dari sekedar pegang kulit jeruknya. Bisa terasa ini jeruk manis atau tidak.

Udah deh, kepanjangan…malah curhat jadinya…

Tapi saya sekarang gak jualan jeruk. Apalagi jadi jeruk makan jeruk…

Saya Jualan MADU, Madu Hutan Murni, dan informasi lengkapnya bisa kawan – kawan dapatkan di sini

 

Nah, coba kawan – kawan rasakan perbedaannya saat tiba – tiba saya melakukan penawaran produk Madu misalnya. Saya yakin kawan – kawan langsung illfeel dengan apa yang saya tulis. Tapi saat saya masuk dengan cerita yang kadang malah gak ada hubungannya dengan iklan yang saya tulis, kita lebih welcome, membiarkan diri kita membaca ceritanya hingga akhir.

Masalah iklannya memberi konversi atau tidak itu urusan lain. Namun satu hal yang jadi catatan saya adalah pesan bahwa saya adalah penjual madu menjadi tersampaikan ke pembaca cerita saya. Sehingga jika suatu hari mereka membutuhkan madu, pikiran mereka akan menggiring informasinya ke saya. Sesederhana itu.

Memang, dalam proses dari pesan pertama hingga closing ada beberapa anak tangga yang akan kita lewati. Dimulai dari membuat target pasar “sadar” bahwa kita ada, lalu membuat mereka suka dengan kita, setelah mereka suka, akan lebih mudah mempengaruhi mereka untuk membeli.

Story Telling yang saya maksudkan dalam tulisan kali ini tujuannya sebagai kunci masuk ke target pasar, membangun kesadaran ke mereka bahwa kita ada. Biasanya ini bagian yang paling sulit.

Setelah mereka suka banget dengan kita dan mereka memang benar – benar membutuhkan produk kita, kalimat iklannya bisa langsung to the point “menawarkan” produk ke mereka. Itulah mengapa jika di pasar, pedagang lebih menggunakan bahasa to the point

“cari apa kak?”

“dipilih kak”

“singgah dulu, ini ada diskon lo.”

Dan lain – lain. Karena biasanya yang pergi ke pasar memang tujuannya membeli, bukan cari – cari informasi.

Begitupun saat kita berjualan di marketplace online, kalimat penawarannya to the point. Berbeda saat di sosmed. Sebagian besar kita ke sosmed tujuannya ada yang mencari teman, kawan ngobrol, atau baca – baca apa yang sedang trend saat ini.

Sekali lagi, pikiran kita punya satpam yang memfilter informasi yang masuk. Untuk itu kita perlu merayu si satpam agar membukakan pintu untuk informasi yang kita bawa dan cara yang cukup mudah adalah lewat cerita. Selamat bercerita!

four × 3 =