Medan ke Mandailing Natal, Rute Keliling Sumatera I 2019

Categories Blogging, Travelling

Membaca postingan teman di FB, perjalanan beliau dari Kota Panyambungan ke Kecamatan Natal via Danau Siais, rasanya menarik juga untuk di lalui. Baiklah, Rute keliling sumatera pertama kita di tahun 2019 adalah dari Medan ke Mandailing Natal, tepatnya kecamatan Natal di tepi pantai barat Sumatera.

Berbekal cerita dari teman tadi, kami rencanakan untuk mengambil rute Medan ke Mandailing Natal via jalur utama : Medan ke Tebing Tinggi, lalu Tebing Tinggi ke Pematang Siantar, Dilanjutkan menujuk Kota Balige – Tarutung – Sibolga. Selepas istirahat pagi di Sibolga, dilanjutkan rute Sibolga ke Batang Toru dan bermuara di Danau Siais. Selepas Danau Siais, kami nikmati jalan baru menuju kecamatan Natal.

Sedangkan jalur pulangnya : Natal Ke Panyambungan, lalu dilanjutkan ke kota P. Sidimpuan – Rantau Prapat dan Tebing Tinggi dan finish kembali di Kota Medan.

Diperkirakan lama perjalanan kami sekitar 3 hari, berangkat hari jumat sore, tiba di Medan kembali Senin pagi (Subuh). Alhmdulillah perkiraan tersebut tepat.

Total perjalanan yang tercatat di dalam odo meter kendaraan kami adalah 1250 km. Menghabiskan sekitar 125 liter bahan bakar (dengan perbandingan 1:10).

Sayangnya di google maps rute Danau Siais menuju Natal belum terpetakan. Ini persis seperti rute Barus – Pakkat menuju ke simpang kanan Aceh Singkil. Di googlemap belum ada tapi sejatinya ada.

Danau siais ke natal

Sewaktu kami di Barus kemarin, warga yang kami tanyakan berkelakar “Banyak hantunya bang di sana, jadi hantu itu menutupi satelit yang melakukan pemetaan.”

Tapi, belum ada di google maps bukan berarti tidak ada jalankan? Siapa tau dengan perjalanan kami ini, google menjadi terinspirasi untuk memetakan jalan-jalan keren di pantai barat sumatera yang masih perawan.

Mengenal Kecamatan Natal, Kab. Mandailing Natal

Jika kita buka peta Sumatera Utara, kita akan menemukan kota kecil bernama Natal di tepian pojok kiri Sumatera Utara. Secara administratif, Kecamatan Natal termasuk salah satu Kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal yang sebelumnya juga memekarkan diri dari Kabupaten Tapanuli Selatan di tahun 1999

Jika kita menelusuri pantai barat sumatera, ke arah utara Sumatera Barat, maka kita akan menemukan pola budaya yang mirip dengan budaya Minangkabau. Kesamaan yang paling terasa adalah kesamaan bahasa, walau tidak 100% sama, tapi sangat mirip.

Daerah seperti Natal, Sibolga, Sorkam, Singkil di aceh, hingga ke Tapak Tuan di Aceh Selatan dan sebagian Aceh Barat Daya. Memiliki kesamaan pola budaya, terutama bahasa. Jika nanti kawan-kawan berkesempatan hadir ke daerah-daerah di atas, temukan kesamaan ini ya.

Mengenai nama “Natal” sendiri masih ada beberapa versi, awalnya dikenal dengan istilah Ranah Nata, lalu saat bangsa Portugis masuk ke natal, daerah ini dengan sebutan Natal, karena kemiripan dengan daerah Natal di Afrika Selatan, ada juga yang bilang portugis datang saat hari Natal. (Wikipedia)

Dan dari obrolan kami dengan salah satu Teman di Panyambungan, Kota Natal memiliki peran yang sangat penting. Ini disebabkan Natal dikenal sebagai kota pelabuhan penting di pantai barat sumatera, bahkan ada yang mengatakan jauh sebelum Sibolga atau Barus.

Dengan dibukanya jalur lintas tengah Sumatera, yaitu jalur darat Padang Sidimpuan ke Sibolga, jalur pantai barat menjadi kurang diminati sehingga dengan sendirinya pusat perekonomianpun pindah. Dengan akan dibukanya pelabuhan Pelimbungan di Kecamatan Batahan, di selatan Natal, membuka angin segar tumbuhnya kembali perekonomian di sana, Semoga.

Persiapan Perjalanan : Medan ke Mandailing Natal

persiapan perjalanan medan ke mandailing natal

Berencana untuk dapat berangkat sebelum ashar, harapannya bisa sampai di Balige sebelum pukul 10 malam. Kenapa ke Balige? karena di sini ada kawan kami yang memiliki usaha Cafe, Istirahat sekalian nyobain seduhan kopinya. Kebetulan beliau baru saja beli mesin kopi baru. hehe.

kembali ke persiapan keberangkatan, sama seperti perjalan road trip keliling aceh tahun yang lalu, tidak banyak yang disiapkan. Hanya kendaraan yang memadai, pakaian ganti secukupnya.

Sama seperti perjalanan lainnya, kali ini peserta hanya laki laki. hehe. Ada dosen universitas negeri di Medan, Konsultan Akuntansi, Arsitek (Konsultan Baja Ringan di Medan) dan Saya.

Berhubung orang sibuk semua, rencana berangkat sebelum ashar, molor menjadi 17.30.

Makan Malam Pertama Rute Medan – Mandailing Natal di Tebing Tinggi

Ada banyak pilihan makanan di Tebing Tinggi, biasa kalau kami melintasi kota lemang ini, kami memilih menu ikan pari bakar di Rumah Makan Suko Mananti. Lokasi rumah makannya agak ‘nyelip’ di belakang ruko-ruko di tepi jalan lintas.

makan malam dalam perjalanan medan ke mandailing natal

Menu Ikan Pari bakar di rumah makan ini memang istimewa, sehari bisa mencapai 80 kg ikan pari mereka bakar. Dan pengunjung ke rumah makan ini hanya mencari menu ikan pari bakar. Jika menu ini tidak ada, mereka lebih memilih untuk tidak makan.

Sayangnya, Rumah makan tujuan kami ini sudah tutup. Pilihan berikutnya ada pada budget, mau menu mahal atau murah khas kaki lima tapi rasa tak mengecewakan.

Di Tebing Tinggi ada satu restoran yang cukup terkenal, Restoran India. Tapi kali ini kami tidak singgah ke sana, kami memilih menu kaki lima di Jalan Iskandar Muda, masuk ke arah kiri jalan dari arah Medan.

Makan malam kami cuma 65 ribu untuk 3 orang, ada pari bakar, kepala mayung, dan nila bakar. Lumayan Murah.

Makan malam pertama

Sekilah Tentang Kota Tebing Tinggi

Tebing Tinggi menjadi salah satu kota yang sering kami singgahi jika melakukan perjalanan, baik ketika memilih jalur lintas timur (ke arah kota kisaran) atau melalui lintas tengah (menuju Kota P. Siantar). Singgah ke kota ini untuk sekedar istirahat atau untuk makan. ada banyak pilihan dan tak perlu khawatir.

Apa yang khas dari kota ini? lemang dan kue kacang. Bahkan kedua produk makanan ini menjadi oleh-oleh khas Kota Tebing Tinggi. Penjual lemang akan kita dapati berjejer di tepi jalan lintas sebelum masuk kota dari arah Kota Medan. Sedangkan penjual Kue kacang tersebar di beberapa titik di kota Tebing Tinggi.

Kalau untuk sejarah nama Tebing Tinggi dapat kawan-kawan baca langsung di situs resmi Pemko Tebing Tinggi.

Tebing Tinggi Ke Siborong-Borong

Wah, kok sampe ke siborong-borong bang? ketemu boru panjaitan? hehe

Rencana awal kami ingin singgah ke green’s cafe di Balige (ini link google map-nya), kebetulan pengelolanya adalah teman baik kami. Sekalian istirahat dan menikmati seduhan kopi khas sana (kopi lintong) atau kopi sejuta ummat, Kopi Gayo.

perjalanan medan ke mandailing natal : balige
Salah Satu Sudut Kafe-nya

Tapi, qodarullah ada kecelakaan di jalan lintas Tebing Tinggi – Pematang Siantar, yang menyebabkan kemacetan hingga 1,5 jam. Dalam rencana kami sekitar pukul 10 malam tiba di balige, karena kejadian ini baru sampai di balige sekitar pukul 1 dini hari. Saya yang kebetulan sedang dibalik kemudi tancap gas menuju Sibolga.

Tiba di Siborong-Borong, mata sudah tidak dapat diajak kompromi. Terhenti di depan masjid taqwa siborong-borong, saya arahkan kemudi masuk ke areal parkir. Sementara teman yang lain masih terlelap dan tidak ada tanda-tanda bakal ada yang menggantikan posisi saya. Sayapun memejamkan mata.

Siborong Borong – Tarutung – Sitahuis Sibolga

Sepanjang perjalanan dari Balige hingga ke Tarutung kita akan disodorkan pemandangan Khas Batak. Karena kami melaluinya saat hari masih gelap, banyak pemandangan khas pegunungan di sekeliling danau toba ini tidak dapat kita saksikan.

Dari Tarutung menuju Kota Sibolga kita akan melalui jalur yang dikenal dengan kelok seribu. Jalur yang berkelok-kelok khas jalur pegunungan di Sumatera, bagian belakang mobil belum masuk, kepala sudah belok lagi. Tapi seru, buat yang hobi…hahaha. Cuma ya siap siap sih, kalau lewat jalur ini, pastikan kita dalam kondisi fit, kalau ga, bakal kena mabuk darat. karena benar – benar mengaduk perut.

Tapi, jalur ekstrim Tarutung – Sibolga sudah jauh banyak perbaikan dan saat ini sedang dilebarkan. Beberapa bagian tebing gunung di kikis sehingga jalanan jadi lebih lega. Tapi saat subuh, menjelang daerah Sitahuis sekitar 30 km dari Sibolga, ada sebuha truk terguling.

Di Desa Mardame Kec. Sitahuis, sekitar 20 km dari Sibolga ada satu satunya masjid yang ada di jalur gunung ini, kami singgah untuk Solat Subuh yang agak sedikit terlambat.

subuh pertama di sitahuis

Lubang Batu Sibolga

Menurut ceritanya, lubang batu ini dibuat sejak zaman penjajahan Belanda. Saat membuat jalur Sibolga ke Tarutung dan sebaliknya, ada batu gunung yang mengalir di atasnya sungai. Tujuan pembuatan lubang batu ini adalah untuk memudahkan lalulintas membawa hasil bumi dan penumpasan laskar pejuang Indonesia.

Cerita sejarah pembuatan Batu Lubang itu bisa kawan-kawan temukan di dinding bukit sekitar bangunan yang berukuran paling besar yang ada di kawasan itu. Di dinding bukit tersebut ada sebuah ornamen yang sengaja dibangun dari semen yang menceritakan tentang sejarah pembangunan Batu Lubang itu.

Namun tidak banyak cerita pasti mengenai tahun dan lama pengerjaan Batu Lubang. Bahkan tahun pembuatannya ada yang menyebutkan tahun 1930 atau sekitar 89 tahun silam serta tahun 1900 atau sekitar 119 tahun silam. Pun juga dengan jumlah korban jiwa masyarakat tapanuli tengah yang bekerja siang malam dengan alat seadanya saat membuka lubang ini.

Lubang Batu sibolga

Ada dua lubang, ada yang sepanjang 8 meter dan 30 meter, keduanya terpisah hanya 50 meter. Jika kita sempatkan untuk berhenti, kita akan melihat adanya aliran sungai di atas lubang batu tersebut dan jatuh ke tebing yang lumayan dalam menjadi air terjun.

Kota Sibolga dan Pandaan

Seperti kebanyakan kota di pesisir, kita akan disuguhkan keindahan laut dan hasil tangkapannya. Saat tiba di sibolga kali ini kami tidak mendapati rumah makan yang sebelumnya kami makan sombam. Tempatnya tidak jauh dari masjid agung sibolga.

Akhirnya, menu sarapan kami hari ini adalah katupek lamak, ketupat yang disiram kuang asam padeh dan sambal karambia (sambal dari parutan kelapa) dan taburan tri goreng yang membuat lidah meleleh.

katupek lamak sibolga

Selain ini ada juga oleh-oleh khas sibolga yaitu kripik ubi yang dibalur sambal khas sibolga, pedas manis dan ada taburan ikan teri yang menyelip di antara irisan ubi yang tipis dan garing. Tapi diperjalanan ini kami tidak menemukannya.

Bergeser sedikit ke selatan, kita akan mendapati ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah. Di kota ini kita akan menemukan sebuah sekolah yang punya nama besar, tidak hanya di Sumatera Utara, tapi juga Se Indonesia. Nama sekolahnya adalah SMA Matauli Pandaan.

Untuk Informasinya bisa dilihat di situs WikiPedia.

Biasanya juga, jika kami di pandaan, dan dalam perjalanan medan ke mandailing natal kali ini, kami sempatkan untuk makan ikan bakar yang masih segar. Kebetulan kami berhenti di daerah Hajoran.

ikan bakar khas pesisir sibolga

Saat kami aplot ini ke media sosial, sebagian orang merasa kami telah menghabiskan banyak biaya untuk perjalanan ini, padahal tidaklah demikian. Untuk makan 5 porsi ikan plus nasi ini, kami hanya menghabiskan 240 ribu rupiah saja. Coba kawan-kawan bandingkan dengan makan di tempat lain dengan menu yang sama.

Konsep yang kami usung dalam setiap roadtrip adalah low budget high impact. Seperti perjalanan keliling aceh yang kami lakukan beberapa waktu yang lalu.

Sehabis ini, perjalanan medan ke mandailing natal akan saya lanjutkan langsung ke Danau Siais di Batang Toru.

Bersambung…

2 thoughts on “Medan ke Mandailing Natal, Rute Keliling Sumatera I 2019

  1. Gimana jalurnya bg? Apa bnyak jalur rusak? Saya rencana mau kesana juga naik sedan, kalo jalannya bnyak rusak jadi agak takut mentok

    1. kami kemarin naik kijang, jalurnya bagus kok, yang agak rusak nanti di perjalan natal balik ke panyambungan, tapi lumayan bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =