Happiness Only Real When Shared

Kalimat di atas, jika menggunakan google translate maka terjemahannya kurang lebih : Kebahagian hanya nyata jika bersama.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengirimkan ke rumah saya dua buah DVD berisi film – film yang beliau rekomendasikan kepada saya. Film yang menurutnya bagus dan memiliki nilai yang dapat diambil.

Salah satu film yang ada dalam DVD itu adalah Into The Wild.

Film ini adalah sebuah kisah nyata, seorang anak muda yang sedang mencari arti kebahagiaan. Ia menjalani hidup tidak lazim dengan hidup sendiri di pedalaman hutan alaska.

Di akhir cerita ia menemukan sebuah jawaban atas apa yang ia cari, arti kebahagiaan. Dan kemudian ia menuliskan kalimat di atas di dalam buku catatannya.

Saat ia menyadari kesalahannya dan sedang menunggu cuaca membaik untuk kembali ke kehidupan normal, ia kehabisan bahan makanan dan salah memakan “dedaunan”. Keracunan dan akhirnya mati.

Dari film ini saya belajar bahwa kebahagiaan itu adalah ketika kebermanfaatan kita di rasakan orang lain.

Saya mengartkan kata “shared” dengan sebuah kata, manfaat. Sejalan dengan apa yang dipesankan Nabi Muhammad SAW, bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lain.

Dan sayapun benar – benar merasakan bahwa ketika kita menebarkan manfaat, kebaikan – kebaikan yang kita tebar, justru kembali kepada kita sendiri.

Kawan – kawan boleh percaya atau tidak, karena memang kemudahan – kemudahan yang terjadi dalam hidup kita, terkadang berasal dari ‘doa’ orang – orang yang sebelumnya ‘menerima’ manfaat dari apa yang kita lakukan. Termasuk di dalamnya aktifitas ‘menulis’ di blog ini.

Dengan berkembangnya teknologi informasi saat ini, kebanyakan kita justru beraktivitas di dunia maya. Sosial media, Sosial chat dan blog dan lain – lain. Kesemua teknologi ini memaksa kita untuk “berbagi” apa yang kita miliki.

Seperti kata pepatah, teko hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Apa yang kita bagikan adalah buah dari pikiran kita, teko diri kita. Jika memang baik yang kita punya, maka kebaikan yang akan kita bagikan. Begitu juga sebaliknya.

Dan ingat bahwa, setiap apa yang kita bagikan, semua menjadi catatan amal kita di hadapan Yang Maha Kuasa kelak. Untuk itu, sebaiknya kita berhati – hati.

Soal Niat, terkadang sebagian kita berniat saat “berbagi” maka ada tujuan – tujuan tersembunyi yang mengikutinya. Yang terkadang pula sifatnya hanya materi. Memang untuk sampai pada tingkatan “ikhlas” itu butuh latihan terus menerus, jadi mulai saja berbagi, karena kebaikan hanya akan berbalas kebaikan. Seiring berjalan waktu, kita akan merasakan dan merenungkan apa yang sudah kita lakukan.

Kita akan merasakan bahwa tujuan ‘materil’ yang kita canangkan di awal, ternyata sangat kecil jika dibandingkan dengan ‘manfaat’ balasan yang Allah berikan saat kita menjadikan diri kita pribadi – pribadi yang bermanfaat.

Salam, saya Bag Kinantan.

 

eighteen + 7 =